Selasa, 05 Juni 2012

II. Teamwork


Kelompok adalah suatu kolektif yang terdiri atas berbagai organisme dimana eksistensi semua anggota sangat penting untuk memuaskan berbagai kebutuhan individu. Artinya, kelompok merupakan suatu alat untuk mendapatkan berbagai kebutuhan individu. Individu menjadi milik kelompok karena mereka mendapatkan berbagai kepuasan sebaik mungkin melalui organisasi yang tidak dengan mudah mereka dapatkan melalui cara lainnya (Cartwright & Zander, 1971: 20)


Sedangkan menurut para ahli pengertian organisasi adalah 
  • Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama.
  • James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
  • Chester I. Bernard berpendapat bahwa organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
  • Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
Kelompok Formal dan Informal
Kelompok-kelompok di dalam organisasi secara sengaja direncanakan atau sengaja dibiarkan terbentuk oleh manajemen selaku bagian dari struktur organisasi formal. Kendati begitu, kelompok juga kerap muncul melalui proses sosial dan organisasi informal. Organisasi informal muncul lewat interaksi antar pekerja di dalam organisasi dan perkembangan kelompok jika interaksi tersebut berhubungan dengan norma perilaku mereka sendiri, kendati tidak digariskan lewat struktur formal organisasi. Dengan demikian, terdapat perbedaan antara kelompok formal dan informal.
Kelompok Formal – Kelompok ini dibangun selaku akibat dari pola struktur organisasi dan pembagian kerja. Contohnya, pengelompokan kegiatan-kegiatan pekerjaan yang relatif serupa ke dalam satu kelompok. Kelompok ini merupakan hasil dari sifat teknologi yang diterapkan perusahaan dan berhubungan dengan cara bagaimana suatu pekerjaan dilakukan. Kelompok juga terjadi tatkala sejumlah orang pada tingkat atau status yang sama dalam organisasi memandang diri mereka sebagai satu kelompok. Contoh, kepala-kepala departemen suatu perusahaan industri baja, atau kepala-kepala dinas suatu kabupaten, atau guru-guru.
Kelompok formal tercipta untuk mencapai tujuan organisasi. Kelompok ini sangat memperhatikan aspek kegiatan kerja yang terkoordinasi. Orang-orang disatukan bersama berdasar peran yang telah ditentukan di dalam struktur organisasi. Sifat pekerjaan adalah aspek dominan dari kelompok formal. Sasaran pekerjaan kelompok tersebut diidentifikasi oleh manajemen. Setelah sasaran ini dibentuk, segera menyusul pembentuk aturan-aturan, hubungan, dan norma perilaku di kelompok tersebut.
Kelompok formal cenderung permanen, kendati terdapat perubahan keanggotaan aktualnya. Kendati demikian, kelompok formal temporer ini juga diciptakan oleh manajemen, misalnya pembentukan tim-tim berorientasi proyek dalam organisasi yang bercorak matriks. Kelompok kerja formal dapat dibedakan lewat sejumlah cara, semisal berdasar keanggotaan, tugas yang dilakukan, sifat teknologi, atau posisi di dalam struktur organisasi.

Kelompok Informal –Di dalam struktur organisasi formal, selalu terdapat struktur informal. Setiap struktur organisasi formal, khususnya seputar sistem hubungan peran, peraturan, dan prosedur di antara para anggotanya, akan ditanggapi oleh penafsiran dan pengembangan para pekerja di tingkat informal.
Kelompok informal pembentukannya lebih didasarkan pada hubungan dan persetujuan informal di antara para anggota kelompok ketimbang hubungan peran yang telah ditentukan manajemen. Hubungan informal tersebut dibentuk untuk memuaskan kebutuhan sosial dan psikologis para anggota kelompok, sehingga tidak mesti berhubungan dengan tugas-tugas organisasi yang harus mereka laksanakan. Kelompok mungkin saja menggunakan aneka cara demi memuaskan afiliasi anggota dan motivasi sosial lainnya yang dianggap kurang tersedia di dalam situasi kerja organisatoris. Kelompok informal ini utamanya banyak terentuk dalam organisasi industri. Keanggotaan dalam kelompok informal dapat bersifat lintas struktur formal. Mereka terdiri atas individu yang berasal bagian organisasi yang berbeda ataupun tingkatan yang berbeda pula, baik vertikal, diagonal, maupun horisontal.
Kelompok informal dapat bercorak serupa dengan kelompok formal, ataupun bisa pula terdiri atas sebagian kelompok formal. Anggota kelompok informal mengangkat pemimpin informalnya sendiri yang nantinya menjalankan otoritas dengan persetujuan dari para anggota. Pemimpin informal biasanya dipilih berdasarkan kriteria kemampuan seseorang dalam mewakili nilai dan sikap para anggota, membantu menyelesaikan konflik, memimpin kelompok untuk memuaskan kebutuhannya, atau bernegosiasi dengan manajemen atau orang lain di luar kelompoknya.

Pengalaman penulis dalam berorganisasi
Siapa yang tidak tau Ekstrakulikuler saat masa-masa SMA? masa-masa SMA adalah masa dimana kita banyak mencoba banyak hal yang baru. Disinilah saya mulai mengenal apa itu yang disebut organisasi.
Saya tercatat dalam ekstrakulikuler TAEKWONDO -seni bela diri (buat yang kurang tau)-. Yang saya dapat saya tangkap dalam berorganisasi itu adalah, organisasi itu tempat kita berekspresi, wadah kita untuk mengembangkan pola pikir kita.
Saat dalam organisasi saya tergolong aktif sehingga di tunjuk sebagai wakil ketua (bangga dikit). Sebulan dua Bulan lancar-lancar saja dalam menjalankan organisasi tersebut hingga merasa bosan. Terpikir untuk mengikuti ekstrakulikuler yang lain untuk mengisi kebosanan. alhasil saya mengikuti ekskul ORCHESTRA dan lagi lagi ditunjuk sebagai wakil ketua.
Ternyata untuk memimpin 2 organisasi sekaligus tidaklah mudah. banyak keganjilan. sehingga 2 organisasi yang saya pimpin mengalami kemandulan, atau hilang ke-efektifan nya.
Untuk itu saya melepas salah satu ekskul yang saya pimpin. dan ada 1 pelajaran yang dapat saya ambil. Dalam berorganisasi itu sudah pasti memiliki konskuensi dan tanggung jawab yang tidak mudah. Sehingga fokus di dalam 1 organisasi itu lebih baik daripada berada dalam beberapa organisasi namun tidak menjalankan nya secara maksimal. alhasil karena nila setitik rusak sebelanga, karena kesalahan 1 orang jadi rusak lah 1 organisasi.

Rabu, 02 Mei 2012


TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1.Pengertian
Definisi dari teori pengambilan keputusan di kemukakan oleh:
 - Ralp C. Davis;
 - Mary Follet;
 - James A.F. Stoner.

Keputusan dapat dijelaskan sebagai hasil pemecahan masalah, selain itu juga harus didasari atas logika dan pertimbangan, penetapan alternatif terbaik, serta harus mendekati tujuan yang telah ditetapkan.
Seorang pengambil keputusan haruslah memperhatikan hal-hal seperti; logika, realita, rasional, dan pragmatis.
Secara umum pengertian teori pengembilan keputusan adalah, teknik pendekatan yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan atau proses memilih tindakan sebagai cara pemecahan masalah.
Contoh kasus sederhana :
Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Berisiko:
        Kasus Pemilik/Penjual Bakso “Senayan” Cabang Yogya hendak memutuskan berapa mangkok bakso yang harus disediakan rata-rata setiap hari agar keuntungan diperoleh maksimum. Jika disediakan terlalu banyak (melebihi jumlah yang diminta) maka ia akan menderita kerugian yaitu rugi/kerugian biaya produksi karena tidak laku. Jika disediakan terlalu sedikit maka ia juga akan menderita kerugian (rugi kesempatan yaitu berupa keuntungan yang menjadi hilang karena pembeli datang tetapi tidak bisa terlayani). Data yang ada biaya produksi bakso per mangkok sebesar Rp 2000,- dan harga jual bakso per mangkok sebesar Rp 3000,-. Data lain yang diperoleh berdasarkan pengamatan data masa lalu (historical data), yaitu data permintaan dan peluang/probabilitas permintaan tersebut.
2.Jenis Keputusan
Menurut Herbert A. Simon jenis-jenis keputusan dalm suatu perusahaan dibedakan menjadi 2 yaitu keputusan terprogram dan keputusan tidak terprogram. Perbedaan keputusan terprogram dan tidak terprogram terlihat dari persyaratan operasionalnya yang berlainan bagi kedua jenis keputusan tersebut. Ciri-ciri keputusan terprogram dan keputusan tidak terprogram dapat diikhtisarkan sebagai berikut :
Keputusan terprogram          
-           Berulang
-           Dirumuskan dengan cermat
-           Aturan atau algoritma keputusan bagi orang bawahan untuk digunakan   
Keputusan tidak terprogram
-           Kadang-kadang
-           Unik
-           Analisa baru untuk setiap kejadian

Dengan kata lain, keputusan terprogram adalah keputusan yang dirumuskan dengan cermat dan cukup sering diulangi sehingga aturan keputusan atau algoritma keputusan dapat dirumuskan. Aturan-aturan dapat diuraikan sebelumnya, dan karena itu aturan-aturan tersebut biasanya dapat diberi kode untuk pengolahan komputer. Penggunaan komputer untuk mengolah aturan-aturan keputusan terprogram merupakan suatu pra pemilihan oleh seorang pengambil keputusan mengenai bagaimana keputusan harus diambil untuk waktu yang akan datang.Karena pengambilan keputusan itu merupakan suatu proses yang mahal ditinjau dari sudut sumber daya yang sangat langka, waktu dan tenaga manajerial, maka keputusan terprogram merupakan suatu metode yang efisien untuk menghemat sumber daya yang langka dan untuk meningkatkan produktifitas manajer.
            Sedangkan untuk keputusan tidak terprogram, keputusan ini tidak sering diulang atau dapat dikatakan keputusan ini sangat berbeda di setiap pengulangannya, sehingga tidak dapat dikembangkan suatu model umum sebagai suatu dasar untuk memogramnya.
            Kegiatan pengambilan keputusan baik yang terprogram ataupun tidak terprogram dapat mengikuti proses pengambilan keputusan termasuk pemahaman, perancangan dan pemilihan. Penentuan keputusan terprogram memerlukan lebih banyak pemecahan umum daripada keputusan tidak terprogram. Untuk keputusan terprogram harus mempertimbangkan bermacam-macam kondisi sedangkan keputusan tidak terprogram hanya berhubungan dengan suatu situasi tertentu.



TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN


Teori-teoripengambilan keputusan bersangkut paut dengan masalah bagaimana pilihan-pilihan semacam itu dibuat. Kebijaksanaa, sebagai telah kita rumuskan di muka, adalah suatu tindakan yang mengarah pada tujuan tertentu yang dilakukan oleh seseorang aktor atau sejumlah aktor berkenaan dengan suatu masalah atau persoalan tertentu.
Secara tipikal pembuatan kebijaksanaan merupakan tindakan yang berpola, yang dilakukan sepanjang waktu dan melibatkan banyak keputusan yang di antaranya ada yang merupakankeputusan rutin, ada yang tidak rutin. Dalam praktek pembuat kebijaksanaan sehari-hari amat jarang kita jumpai suatu kebijaksanaan yang hanya terdiri dari keputusan tunggal. Dalamtulisan ini akan dibahas 3 (tiga) teori pengambilan keputusan yang dianggap paling sering dibicarakan dalam pelbagai kepustakaan kebijaksanaan negara.
Teori-teori yang dimaksud ialah : teori Rasional komprehensif, teori Inkremental dan teori Pengamatan terpadu.

Teori Rasional Komprehensif

Teori pengambilan keputusan yang paling dikenal dan mungkin pula yang banyak diterima oleh kalangan luas ialah teori rasional komprehensif. Unsur-unsur utama dari teori ini dapat dikemukakan sebagai berikut :
1. Pembuat keputusan dihadapkan pada.suatu masalah tertentu yang dapat dibedakan dari masalah-masalah lain atau setidaknya dinilai sebagai masalah-masalah yang dapat diperbandingkan satu sama lain.
2. Tujuan-tujuan, nilai-nilai, atau sasaran yang mempedomani pembuat keputusan amat jelas dan dapat ditetapkan rangkingnya sesuai dengan urutan kePentingannya.
3. Pelbagai altenatif untuk memecahkan masalah tersebut diteliti secara saksama.
4. Akibat-akibat (biaya dan manfaat) yang ditmbulkan oleh setiap altenatif Yang diPilih diteliti.
5. Setiap alternatif dan masing-masing akibat yang menyertainya,
dapat diperbandingkan dengan alternatif-altenatif lainnya.
6. Pembuat keputusan akan memilih alternatif’ dan akibat-akibatnya’ yang dapat memaksimasi tercapainya tujuan, nilai atau Sasaran yang telah digariskan.
Teori rasional komprehensif banyak mendapatkan kritik dan kritik yang paling tajam berasal dari seorang ahli Ekonomi dan Matematika Charles Lindblom(1965 , 1964′ 1959)’ Lindblom secara tegas menyatakan bahwa para pembuat keputusan itu sebenarya tidaklah berhadapan dengan masalah-masalah yang konkrit dan terumuskan dengan jelas.
Lebih lanjut, pembuat keputusan kemungkinan juga sulit untuk memilah-milah secara tegas antara nilai-nilainya sendiri dengan nilai-nilai yang diyakini masyarakat. Asumsi penganjur model rasionar bahwa antara fakta-fakta dan nilai-nilai dapat dengan mudah dibedakan, bahkan dipisahkan, tidak pemah terbukti dalam kenyataan sehari-hari. Akhirnya, masih ada masalah’ yang disebut ,,sunk_cost,,. Keputusan_-keputusan, kesepakatan-kesepakatan dan investasi terdahulu dalam kebijaksanaan dan program-program yang ada sekarang kemungkinan akan mencegah pembuat keputusan untuk membuat keputusan yang berbeda sama sekali dari yang sudah ada.
Untuk konteks negara-negara sedang berkembang, menurut R’s. Milne (1972), mode irasionar komprehensif ini jelas tidak akan muduh diterapkan. Sebabnya ialah: informasi/datastatistik tidak memadai ; tidak memadainya perangkat teori yang siap pakai untuk kondisi- kondisi negara sedang berkembang ; ekologi budaya di mana sistem pembuatan keputusan itu beroperasi juga tidak mendukung birokrasi di negara sedang-berkembang umumnya dikenal amat lemah dan tidak sanggup memasok unsur-unsur rasionar dalam pengambilan keputusan.

Teori Inkremental

Teori inkremental dalam pengambilan keputusan mencerminkan suatu teori pengambilankeputusan yang menghindari banyak masalah yang harus dipertimbangkan (seperti daram teori rasional komprehensif) dan, pada saat yang sama, merupakan teori yang lebih banyak menggambarkan cara yang ditempuh oleh pejabat-pejabat pemerintah dalam mengambil kepurusan sehari-hari.
Pokok-pokok teori inkremental ini dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Pemilihan tujuan atau sasaran dan analisis tindakan empiris yang diperlukan untuk mencapainya dipandang sebagai sesuatu hal yang saling terkait daripada sebagai sesuatu hal yang saling terpisah.
b. Pembuat keputusan dianggap hanya mempertimbangkan beberapa altematif yang langsung berhubungan dengan pokok masalah dan altematif-alternatif ini hanya dipandang berbeda secara inkremental atau marginal bila dibandingkan dengan kebijaksanaan yang ada sekarang.
c. Bagi tiap altematif hanya sejumlah kecil akibat-akibat yang mendasar saja yang akan dievaluasi.
d. Masalah yang dihadapi oleh pembuat keputusan akan didedifinisikan secara terarur. Pandangan inkrementalisme memberikan kemungkin untuk mempertimbangkan dan menyesuaikan tujuan dan sarana serta sarana dan tujuan sehingga menjadikan dampak dari masalah itu lebih dapat ditanggulangi.
e. Bahwa tidak ada keputusan atau cara pemecahan yang tepat bagi tiap masalah. Batu uji bagi keputusan yang baik terletak pada keyakinan bahwa berbagai analisis pada akhirnya akan sepakat pada keputusan tertentu meskipun tanpa menyepakati bahwa keputusan itu adalah yang paling tepat sebagai sarana untuk mencapai tujuan.
f. Pembuatan keputusan yang inkremental pada hakikatnya bersifat perbaikan-perbaikan kecil dan hal ini lebih diarahkan untuk memperbaiki ketidaksempunaan dari upaya-upaya konkrit dalam mengatasi masalahsosial yang ada sekarang daripada sebagai upaya untuk menyodorkan tujuan-tujuan sosial yang sama sekali baru di masa yang akan datang.
Kepurtusan-keputusan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan pada hakikatnya merupakan produk dari saling memberi dan menerima dan saling percaya di antara pelbagai pihak yang terlibat dalam proses keputusan tersebut. Dalam masyarakat yang strukturnya majemuk paham lnkremental ini secara politis lebih aman karena akan lebih gampang untuk mencapai kesepakatan apabila masalatr-masalah yang diperdebatkan oleh pelbagai kelompok yang terlibat hanyalah bersifat upaya untuk memodifikasi terhadap program-program yang sudah ada daripada jika hal tersebut menyangkut isu-isu kebijaksanaan mengenai perubahan-perubahan yang radikal yang memiliki sifat ” ambil semua atau tidak sama sekali. Karena para pembuat keputusan itu berada dalam keadaan yang serba tidak pasti khususnya yang menyangkut akibat-akibat dari tindakan-tindakan mereka di masa datang, maka keputusan yang bersifat inkremental ini akan dapat mengurangi resiko dan biaya yang ditimbulkan oleh suasana ketidakpastian itu.

Teori Pengamatan Terpadu (Mixed Scanning Theory)

Penganjur teori ini adalah ahli sosiologi organisasi Amitai Etzioni. Etzioni setuju terhadap kritik-kritik para teoritisi inkremental yang diarahkan pada teori rasional komprehensif, akan tetapi ia juga menunjukkan adanya beberapa kelemahan yang terdapat pada teori inkremental. Misatnya, keputusan-keputusan yang dibuat oleh pembuat keputusanpenganut model inkremental akan lebih mewakili atau mencerminkan kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang kuat dan mapan serta kelompok-kelompok yang mampu mengorganisasikan kepentingannya dalam masyarakat, sementara itu kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang lemah dan yang secara politis tidak mampu mengorganisasikan kepentingannya praktis akan terabaikan. Iebih lanjut” dengan memusatkan perhatiannya pada kepentingan/tujuan jangka pendek dan hanya berusaha untuk memperhatikan variasi yang terbatas dalam kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ada sekarang, maka model inkremental cenderung mengabaikan peluang bagi perlunya pembaruan sosial (social inovation) yang mendasar.
Oleh karena itu, menurut Yehezkel Dror (1968) gaya inkremental dalam pembuatankeputusan cenderung menghasilkan kelambanan dan terpeliharanya status quo, sehingga merintangi upaya menyempurnakan proses pembuatan keputusan itu sendiri. Bagi sarjana seperti Dror– yang pada dasarnya merupakan salah seorang penganjur teori rasional yang terkemuka — model inkremental ini justru dianggapnya merupakan strategi yang tidak cocok untuk diterapkan di negara-negara sedang berkembang, sebab di negara-negara ini perubahan yang kecil-kecilan (inkremental) tidaklah memadai guna tercapainya hasil berupa perbaikan-perbaikan besar-besaran.
Model pengamatan terpadu juga memperhitungkan tingkat kemampuan para pembuatkeputusan yang berbeda-beda. Secara umum dapat dikatakan, bahwa semakin besar kemampuan para pembuat keputusan untuk memobilisasikan kekuasaannya guna mengimplementasikan keputusan-keputusan mereka, semakin besar keperluannya untuk melakukan scanning dan semakin menyeluruh scanning itu, semakin efektif pengambilankeputusan ‘tersebul Dengan demikian, moder pengamatan terpadu ini pada hakikatnya merupakan pendekatan kompromi yang menggabungkan pemanfaatan model rasional komprehensif dan moder inkremental dalam proses pengambilan keputusan.
( 24/4/2012 1:04AM)
TIPE PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan keputusan ( Decision making) : adalah tindakan manajemen dalam pemilihan alternative untuk mencapai sasaran.
Keputusan dibagi dalam 3 tipe :
1.               Keputusan terprogram/keputusan terstruktur : keputusan yg berulang2 dan rutin, sehingga dapt diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pd manjemen tkt bawah. Co:/ keputusan pemesanan barang, keputusan penagihan piutang,dll.
2.               Keputusan setengah terprogram / setengah terstruktur : keputusan yg sebagian dpt diprogram, sebagian berulang-ulang dan rutin dan sebagian tdk terstruktur. Keputusan ini seringnya bersifat rumit dan membutuhkan perhitungan2 serta analisis yg terperinci. Co:/ Keputusan membeli sistem komputer yg lebih canggih, keputusan alokasi dana promosi.
3.               Keputusan tidak terprogram/ tidak terstruktur : keputusan yg  tidak terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen tingkat atas.  Informasi untuk pengambilan keputusan tdk terstruktur tdk mudah untuk didapatkan dan tdk mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar. Pengalaman manajer merupakan hal yg sangat penting didalam pengambilan keputusan tdk terstruktur. Keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lain adalah contoh keputusan tdk terstruktur yg jarang terjadi.


Kamis, 29 Maret 2012

perbedaan kekuasaan dan wewenang

PERBEDAAN KEKUASAAN DAN WEWENANG
Kekuasaan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak yang ada pada pemegang kekuasaan.Kekuasaan adalah hubungan antara pihak yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain (pemimpin) dengan pihak yang menerima pengaruh (pengikut).
Wewenang adalah kekuasaan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang, yang mempunyai dukungan atau mendapat pengakuandari masyarakat. Wewenang akan berhasil apabila dibarengi dengan kekuasaan yang nyata. Dalam masyarakat kecil dan bersahaja biasanya tidak terdapat perbedaan yang jelas antara kekuasaan dan wewenang. Sedangkan pada masyarakat besar dan rumit terdapat sifat dan tujuan hidup golongan yang berbeda – beda kepentingan, yaitu kekuasaan politik, militer, ekonomi, agama (biasanya pada masyarakat yang (demokrasi).

A. Kekuasaan
1. Hakikat Kekuasaan dan Sumbernya
Kekuasaan tertinggi dalam masyarakat adalah kedaulatan (sovereignity) yang dijalankan oleh segolongan kecil masyarakat. Disebut juga the ruling class (Gaetano Mosca).
Adapun sumber – sumber kekuasaan adalah sebagai berikut :
a. Militer, polisi, kriminal: Sebagai pengendali kekerasan.
b. Ekonomi: Sebagai pengendali tanah, buruh, kekayaan material, produksi.
c. Politik : Sebagai pengambil keputusan.
d. Hukum : Mempertahankan, memgubah, melancarkan interaksi.
e. Tradisi : Sistem kepercayaan nilai – nilai.
f. Ideologi : Pandangan hidup, integrasi.
g. Diversionary power : Kepentingan rekreatif.

2. Unsur – Unsur Saluran Kekuasaan
Unsur – unsur pokok kekuasaan :
a. Rasa takut : Menimbulkan kepatuhan terhadap segala kemauan dan tindakan orang yang ditakuti.
b. Rasa cinta : Akan menghasilkan perbuatan – perbuatan yang positif.
c. Kepercayaan : Timbul sebagai hasil hubungan langsung antara dua orang atau lebih yang bersifat asosiatif.
d. Pemujaan : Pemegang kekuasaan mempunyai dasar pemujaan dari orang lain.
Saluran – saluran kekuasaan antara lain :
1. Saluran militer
2. Saluran ekonomi
3. Saluran politik
4. Saluran tradisi
5. Saluran ideologi
6. Saluran lain (alat komunikasi massa)

3. Cara Mempertahankan Kekuasaan
Kekuasaan dapat dipertahankan dengan cara – cara berikut :
a. Dengan jalan meninggalkan segenap peraturan – peraturan lama, terutama dalam bidang politik yang merugikan kedudukan penguasa.
b. Mengadakan sistem – sistem kepercayaan.
c. Pelaksanaan administrasi dan birokrasi yang baik.
d. Mengadakan konsilidasi secara horizontal dan vertikal.
Kedudukan juga dapat diperkuat dengan :
a. Menguasai bidang – bidang kehidupan tertentu.
b. Penguasaan bidang – bidang kehidupan dalam masyarakat yang dilakukan dengan paksa dan kekerasan.

4. Bentuk – Bentuk Lapisan Kekuasaan
a. Tipe Kasta
adalah lapisan kekuasaan dengan garis pemisah yang tegas dan kaku. Contohnya adalah pada masyarakat berkasta.
b. Tipe Oligarkis
adalah dimana masih ada garis pemisah yang tegas, tetapi pembedaan ada pada kesempatan yang diberikan para warga untuk memperoleh kekuasaan.
c. Tipe Demokratis
adalah lapisan yang sifatnya mobil sekali (selalu bergerak)
B. Wewenang
1. Wewenang Kharismatis, Tradisional dan Rasional (Legal)
Perbedaan antara ketiganya adalah hubungan antara tindakan dengan dasar hukum yang berlaku.
Wewenang kharismatis merupakan wewenang yang didasarkan pada kharisma, yaitu suatu kemampuan khusus (wahyu,pulung) yang ada pada diri seseorang.
Wewenang tradisional adalah wewenang yang bukan karena mempunyai kemampuan – kemampuan khusus, tetapi karena kelompok tadi mempunyai kekuasaan dan wewenang yang telah melembaga dan bahkan menjiwai masyarakat.
Wewenang rasional (legal) adalah wewenang yang didasarkan pada sitem hukum yang berlaku dalam masyarakat.

2. Wewenang Resmi dan Tidak Resmi
Wewenang resmi bersifat sistematis, diperhitungkan, dan rasional. Biasanya pada kelompok besar yang tetap.
Wewenang tidak resmi bersifat spontan, situasional dan didasarkan pada faktor saling mengenal. Dalam masyarakat kecil, wewenang tidak resmi dapat menjadi resmi apabila terlalu seringnya terjadi pertikaian antar anggota.
3. Wewenang Pribadi dan Teritorial
Wewenang pribadi sangat tergantung pada solidarisan antar anggota, kebersamaan sangat memegang peranan.
Wewenang territorial yaitu dimana tempat tinggal memegang peranan yang sangat penting. Yang membedakan keudanya adalah timbul dari sifat dan dasar kelompok – kelompok sosial tertentu.
4. Wewenang Terbatas dan Menyeluruh
Wewenang menyeluruh adalah suatu wewenang yang tidak dibatasi oleh bidang – bidang kehidupan tertentu. Contohnya kewenangan Negara untuk mempertahankan kedaulatannya.
Wewenang terbatas adalah wewenang tidak mencakup semua sector atau bidang kehidupan, tetapi hanya pada satu sektor saja.


C. Kesimpulan
Kekuasaan berperan dalam menentukan nasib manusia. Kekuasaan mempunyai sumber dan kegunaannya sendiri. Kekuasaan juga terdiri dari unsur – unsur yang saling berkaitan dengan yang lainnya. Kekuasaan mempunyai bentuk – bentuk lapisan. Kekuasaan harus dipertahankan oleh setiap individu agar tetap berjalan. Begitu juga dengan wewenang yang tidak kalah pentingnya. Wewenang juga mempunyai bentuk – bentuk yang berbeda.



Sumber:

peranan staff dalam organisasi

PERANAN STAF

     Telah dikemukakan bahwa dalam organisasi bentuk lini dan staff ada dua kelompok tenaga kerja. Kelompok pertama adalah mereka yang tugas utamanya bersifat menterjemahkan tugas pokok menjadi aktivitas, sedang di pihak lain terdapat mereka yang tugasnya melakukan kegiatan-kegiatan penunjang demi lancarnya roda organisasi dan mekanisme kerjasama yang harmonis, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Kedua kelompok ini mempunyai peranan penting dalam merealisasi tujuan organisasi secara efektif dan efisien.
    Sepintas lalu kelihatan seolah-olah karyawan lini lebih penting karena tugas meraka yang utama melaksanakan aktivitas penting untuk merealisasi tujuan. Malah dianggap kadang-kadang bahwa tanpa karyawan staff tujuan dapat juga direalisasi. Pandangan ini terutama dalam organisasi modern kurang tepat, walaupun sifat aktivitas karyawan staff sebagai penunjang kegiatan yang dilakukan olah karyawan lini, akan tetapi peranan mereka dalam menciptakan efektivitas dan efisiensi sangat penting. Dengan bantuan karyawan staff organisasi dapat mendayagunakan resources yang dimiliki perusahaan secara optimum, karena mereka dapat melihat berbagai kemungkinan, pendidikan dan pengalaman mereka memungkinkan memilih kesempatan yang terbaik.

FUNGSI GARIS & STAF
1.                  Dengan makin berkembangnya perusahaan kekompleksan fungsi yang perlu untuk pelaksanaan tugas berkembang lebih cepat sehingga manajemen perlu bantuan melalui spesialisasi yang disebut staf.
2.                  Penciptaan fungsi staf atau fungsi sekunder ini dengan mendiferensiasikan kegiatan ke luar dari rantai komando.
3.                  Fungsi staf membantu dan memperlancar kerja fungsi garis.
4.                  Agar fungsi staf bermanfaat harus jelas fungsinya, dibatasi jumlahnya, tugas pimpinan memang meningkat, staf diberi informasi yang diperlukan, dimintai nasihat, didorong berinisiatif.

MACAM-MACAM STAF
·                     Staf Penasihat
       Dibentuk untuk memberikan saran, bantuan, dan jasa kepada seorang manajer. Staf penasihat juga memberikan saran-saran kepada pimpinan terhadap semua bidang yang menjadi tugas dan tanggung jawab pimpinan. Apabila diperlukan Manajer dapat menunjuk atau mengangkat staf penasihat dalam bidang perencanaan, pengorganisasian, pemberian motivasi, pengawasan, dan pengambilan keputusan.
Agar saran-saran yang diberikan kepada pimpinan merupakan saran yang sudah matang, obyektif dan telah diuji serta diteliti kebenarannya, maka saran-saran itu harus digarap melalui suatu proses. Proses pemberian saran tersebut melalui kegiatan sebagai berikut :
1.                  Pengumpulan data dapat dilakukan dengan mengadakan penelitian atau riset.
2.                  Mengadakan analisis fakta-fakta, informasi-informasi yang diterima.
3.                  Mengadakan evaluasi atau penilaian.
4.                  Membuat berbagai alternatif atau kemungkinan.
5.                  Mengadakan pemilihan dari berbagai kemungkinan yang dianggap paling baik.
6.                  Membuat kesimpulan.
7.                  Merumuskan saran-saran atau pertimbangan-pertimbangan dalam suatu bentuk tertentu sehingga mudah dan cepat dipahami oleh pimpinan.
·                     Staf Pelayanan ( Staf Specialis )
       Yaitu membantu pimpinan dalam melancarkan tugas-tugas organisasi, dalam memberikan pelayanan untuk seluruh lini dan unsur organisasi. Fungsi utama staf pelayanan adalah memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dalam bentuk kegiatan-kegiatan operasional, bukan memberikan saran atau pertimbangan

·                     WEWENANG
      Mengapa manajer dapat memerintah karyawan. Pada situasi yang normal, manajer dapat membuat karyawan mengerjakan apa yang ia perintahkan. Mengapa manajer dapat mendapatkan hak untuk memerintah.
Ada dua pandangan yang menjelaskan wewenang formal (resmi):

1. Pandangan klasik (classical view)
Wewenang datang dari tingkat paling atas, kemudian secara bertahap diturunkan ke tingkat yang lebih bawah

2. Pandangan penerimaan (acceptance view)
Sudut pandang wewenang adalah penerima perintah, bukannya pemberi perintah. Pandangan ini dimulai dengan pengamatan bahwa tidak semua perintah dipatuhi oleh penerima perintah. Penerima perintah akan menentukan apakah akan menerima perintah atau tidak.

·                     KEKUASAAN
          Kekuasaan adalah kemampuan untuk menggunakan pengaruh pada orang lain; artinya kemampuan untuk mengubah sikap atau tingkah laku individu atau kelompok. Kekuasaan juga berarti kemampuan untuk mempengaruhi individu, kelompok, keputusan, atau kejadian. Kekuasaan tidak sama dengan wewenang, wewenang tanpa kekuasaan atau kekuasaan tanpa wewenang akan menyebabkan konflik dalam organisasi.
Secara umum ada dua bentuk kekuasaan:

1. Pertama kekuasaan pribadi, kekuasaan yang didapat dari para pengikut dan didasarkan pada seberapa besar pengikut mengagumi, respek dan terikat pada pemimpin.

2. Kedua kekuasaan posisi, kekuasaan yang didapat dari wewenang formal organisasi. Kekuasaan berkaitan erat dengan pengaruh (influence) yaitu tindakan atau contoh tingkah laku yang menyebabkan perubahan sikap atau tingkah laku orang lain atau kelompok.





sumber :
  29/03/2012 
16:22

Jumat, 11 November 2011

PT.Telekomunikasi indonesia,Tbk




PENDAHULUAN






A. Latar Belakang


Organisasi merupakan kumpulan manusia yang tumbuh, berkembang, berubah, bergabung dan membagi untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang tidak dapat dicapai individu secara perorangan. Artinya suatu organisasi ingin mendapatkan tujuan tertentu dengan cara mengerjakan segala sesuatu secara bersam-sama. Secara teoritis organisasi terdiri dari 3 bagian, yaitu perilaku, struktur dan proses.


Perilaku organisasi yaitu penelahaan tentang individu dan kelompok dalam lingkungan organisasi. Struktur organisasi adalah suatu cetak biru organisasi yang menunjukkan bagaimana manusia dan pekerjaandikelompokkan bersama. Sedangkan proses adalah aktivitas yang memberikan nafas kehidupan bagi struktur organisasi. (Gibson et al.1985)


Memasuki dunia bisnis dan menjalankan suatu usaha membutuhkan kemampuan dalam mengatur segala aspek yang terkait dengan bisnis yang akan dijalankan agar tujuan yang dinginkan dapat terwujud. Dalam hal ini adalah keinginan untuk meraih keberhasilan yanng disertai dengan besarnya keuntungan yang diperoleh.Namun, saat ini menjalankan bisnis merupakan suatu hal yang tidak mudah untuk dilakukan, mengingat tingginya tingkat persaingan yang ditandai dengan semakin banyaknya pelaku bisnis, walaupun bidang bisnis itu sendiri juga semakin meluas. Berbagai upaya dan strategi yang dilakukan oleh pelaku bisnis( perusahaan) agar mampu bertahan dalam dunia bisnis bahkan berupaya agar menjadi perusahaan dengan penguasaan terbesar.


Knowledge atau pengetahuan merupakan aset yang tak ternilai yang dimiliki oleh setiap individu. Pengetahuan yang dimiliki setiap individu pun berbeda-beda tergantung dari banyaknya informasi yang dimiliki individu tersebut. Pencapaian strategi bisnis suatu perusahan bisa berhasil jika terjadi pertukaran pengetahuan yang dilakukan dalam organisasi sehingga dengan bertambahnya pengetahuan diantara karyawan dalam suatu perusahaan kinerja karyawan dalam melakukan pekerjaannya berjalan dengan baik. Pertukaran pengetahuan ini akan berjalan dengan baik jika dikelola melalui knowledge management.


PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (TELKOM) merupakan perusahaan penyelenggara informasi dan telekomunikasi (InfoComm) serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap (full service and network provider) yang terbesar di Indonesia. TELKOM menyediakan jasa telepon tidak bergerak kabel (fixed wire line), jasa telepon tidak bergerak nirkabel (fixed wireless), jasa telepon bergerak (cellular), data & internet dan network & interkoneksi baik secara langsung maupun melalui perusahaan asosiasi. PT telkom merupakan BUMN yang berhasil menerapkan knowledge management di dalam organisasinya. Hal ini terbukti dari beberapa penghargaan yang diperoleh PT Telkom atas keberhasilannya dalam mengelola knowledge management. PT telkom menerapkan knwoledge management dimulai tahun 2003 sehingga PT Telkom mampu melakukan inovasi-inovasi baru.










B.MASALAH


Di era globalisasi seperti sekarang ini, orientasi dari sebuah usaha adalah


mencari keuntungan semata (profit-oriented). Prinsip dasar yang kemudian diterima


secara luas dalam dunia usaha adalah business is business. Dengan berpegang pada


prinsip ini, sebuah perusahaan bisa menghalalkan segala macam cara untuk bisa


meraih keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Sehingga seringkali terjadi gesekangesekan kepentingan baik di dalam internal perusahaan sendiri ataupun antara


perusahaan dengan pihak eksternal.


Namun, saat ini perusahaan tidak hanya dituntut untuk mencari keuntungan


semata dan menghalalkan segala macam cara untuk meraihnya, tetapi juga harus


memperhatikan tanggung jawab sosial dimasyarakat yang berguna untuk menjaga



kelangsungan perusahaan itu sendiri. Untuk itu, sudah hampir beberapa tahun


belakangan ini sering kali kita dengar istilah Corporate Social Responsibility atau


yang bisasa disingkat dengan CSR.


Pentingnya program CSR ini dilaksanakan di dunia usaha, mendorong PT.


Telekomunikasi Indonesia Tbk untuk melaksanakan program CSR yang sangat


bermanfaat bagi masyarakat sekaligus memberikan manfaat tersendiri bagi


Universitas Sumatera Utaraperusahaan. Seperti hasil penelitian dari Novalina tahun 2009 tentang Implementasi


Program Corporate Social Responsibility dan Citra Perusahaan dimana terbukti


bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara implementasi program Corporate


Social Responsibility dan citra positif perusahaan dimasyarakat. Ini terbukti bahwa


CSR tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat tetapi bagi perusahaan itu sendiri.


Selain manfaat diatas tujuan dari CSR adalah untuk pemberdayaan


masyarakat. Pemberdayaan bertujuan untuk mengkreasikan masyarakat mandiri. Ini


sangat disadari benar oleh PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk yang melakukan


kegiatan CSR agar masyarakat berdaya dan menjadi mandiri dengan beberapa


program atau agenda kegiatan yang dilakukan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk


seperti: Telkom Peduli dimana ini merupakan suatu kemasan dari program CSR


(Corporate Sosial Responsibility) Telkom untuk peduli kepada warga masyarakat.


Termasuklah, bagaimana Telkom ingin mengembangkan sebuah kawasan yang


sebelumnya tidak begitu tersentuh, khususnya perkembangan ICT (Information and


Communication Technology) menjadi sebuah kawasan yang memiliki infrastruktur


ICT. Melalui pendekatan Tripple Bottom Line, Telkom mendirikan Pusat Informasi


Masyarakat dengan menyebar titik-titik akses (access points) semacam RT/RW-net


dengan mendirikan Kampung Digital sebagai pusat penyaluran koneksi internet


SPEEDY yang kemudian disalurkan ke Pusat Informasi Masyarakat (PIM),


membantu pembangunan drainase, renovasi mesjid dan menanam 1.000 pohon


mangga di Desa Sampali.


Universitas Sumatera UtaraDesa Sampali ini merupakan salah satu tempat yang dituju perusahaan ini


untuk mengimplementasikan program CSR mereka agar desa ini menjadi desa yang


berdaya dan mandiri. Desa Sampali ini juga merupakan wilayah yang termasuk


kedalam Wilayah Peri-Urban dimana karakteristik daerah urban dan pedesaan


bertemu.


Menyadari akan Wilayah Peri-Urban ini mempunyai peranan penting bagi


peri kehidupan penduduk desa maupun kota di masa yang akan datang dan turut


menentukan peri kehidupan kekotaan karena segala bentuk perkembangan fisikal


baru akan terjadi di wilayah ini. Sehingga tatanan kehidupan kekotaan pada masa


yang akan datang sangat ditentukan oleh bentuk, proses, dan dampak perkembangan


yang terjadi di Wilayah Peri-Urban tersebut maka perusahaan ini membantu


membangun wilayah ini dengan menerapkan program CSR mereka sebagai bentuk


tanggung jawab sosial mereka.


Berdasarkan hal yang dikemukakan diatas maka peneliti tertarik untuk


mengangkat masalah tentang CSR (Corporate Social Responsibility) PT.


Telekomunikasi Indonesia Tbk yang bertempat di Desa Sampali Kecamatan Percut


Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara agar mengetahui


seberapa besar dampak CSR perusahaan itu terhadap masyarakat.



Universitas Sumatera Utara1.2. Perumusan Masalah


Adapun perumusan masalah yang diangkat pada penelitian ini adalah :


”Bagaimana dampak program CSR (Corporate Social Responsibility) PT. Telkom


Tbk. terhadap akses mata pencaharian masyarakat di Desa Sampali Kecamatan


Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara ?”










C.LANDASAN TEORI


1 Profil TELKOM Indonesia


Profil dari perusahaan yang dibahas adalah PT. Telkom. Profil perusahaan meliputi


sejarah pengembangan, visi dan misi, logo perusahaan, badan hukum, struktur organisasi, serta


tugas dan fungsi dari P.T Telkom.


2 Sejarah TELKOM Indonesia


a. Era kolonial


Pada Tanggal 16 Oktober 1884, diresmikan penggunaan tiga daerah pertama oleh


Pemerintah Hindia Belanda menerbitkan Keputusan Nomor 5 tanggal 31 Juli 1881 yang


memberi konsesi kepada sebuah perusahaan swasta Belanda untuk menyelenggarakan jasa


telepon di Gambir, Batavia, Tanjungpriok, Semarang dan Surabaya. Tanggal 20 September 1906


dapat dicatat sebagai lahirnya PPT (Pos, Telegram, dan Telepon) dalam sistem administrasi


pemerintah yang pertama di Indonesia. PPT sejak saat itu berkembang pesat. Khusus mengenai


telepon dalam lingkup PTT, terjadi berbagai perubahan dan kemajuan berarti. Perubahan dan


kemajuan itu seperti dibukanya sendiri oleh pemerintah layanan telepon di luar Jawa, yaitu di


Jambi dan Palembang. Sebelumnya, pada tanggal 23 Oktober 1856, dimulai pengoperasian


layanan jasa telegraf elektromagnetik pertama yang menghubungkan Jakarta (Batavia) dengan


Bogor (Buitenzorg). Pada tahun 2009 momen bersejarah tersebut dijadikan sebagai patokan hari


lahir Telkom.


b. Perusahaan Negara


Dalam konferensi di Bandung (Maret 1956) tercetus ide untuk mengubah status Jawatan


PPT. menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Kemudian pada tahun


1965, PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro) dan


Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi).


c. Perumtel


Pada tahun 1974, PN Telekomunikasi diubah namanya menjadi Perusahaan Umum


Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun


internasional. Tahun 1980 seluruh saham PT Indonesian Satellite Corporation Tbk. (Indosat) 5


diambil alih oleh pemerintah RI menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk


menyelenggarakan jasa telekomunikasi internasional, terpisah dari Perumtel. Pada tahun 1989,


ditetapkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1989 tentang Telekomunikasi, yang juga mengatur


peran swasta dalam penyelenggaraan telekomunikasi.


d. PT Telekomunikasi Indonesia (Persero)


Pada tahun 1991 Perumtel berubah bentuk menjadi Perusahaan Perseroan (Persero)


Telekomunikasi Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1991.


e. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk


Pada tanggal 14 November 1995 dilakukan Penawaran Umum Perdana saham Telkom.


Sejak itu saham Telkom tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Bursa Efek



Surabaya (BES), Bursa Saham New York (NYSE) dan Bursa Saham London (LSE). Saham


Telkom juga diperdagangkan tanpa pencatatan di Bursa Saham Tokyo.


Tahun 1999 ditetapkan Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Penghapusan


Monopoli Penyelenggaraan Telekomunikasi. Memasuki abad ke-21, Pemerintah Indonesia


melakukan diregulasi di sektor telekomunikasi dengan membuka kompetisi pasar bebas. Dengan


demikian, Telkom tidak lagi memonopoli telekomunikasi Indonesia.


Tahun 2001 Telkom membeli 35% saham Telkomsel dari PT Indosat sebagai bagian dari


implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di Indonesia yang ditandai dengan


penghapusan kepemilikan bersama dan kepemilikan silang antara Telkom dan Indosat. Sejak


bulan Agustus 2002 terjadi duopoli penyelenggaraan telekomunikasi lokal.


Pada 23 Oktober 2009, Telkom meluncurkan "New Telkom" ("Telkom baru") yang


ditandai dengan penggantian identitas perusahaa










D.PEMBAHASAN






Gambaran Umum PT Telkom (Tbk)


PT TELKOM, Tbk adalah Suatu Badan Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang jasa Telekomunikasi. PT TELKOM menyediakan sarana dan jasa layanan Telekomunikasi dan informasi kepada masyarakat luas sampai kepelosok daerah di seluruh Indonesia. Sejarah PT. TELKOM di Indonesia pertama kali berawal dari sebuah badan usaha swasta penyediaan layanan pos dan telegrap yang didirikan kolonial Belanda pada tahun 1882. Pada tahun 1905 pemerintah kolonial Belanda mendirikan perusahaan Telekomunikasi sebanyak tiga puluh delapan perusahaan. Kemudian Pada tahun 1906 pemerintah Hindia Belanda membentuk suatu jawatan Pos, Telegrap dan Telepon (Post, Telegraph en Telephone Dienst/ PTT).


Pada tahun 1961 status jawatan diubah menjadi perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Kemudian pada tahun 1965 pemerintah memisahkannya menjadi perusahan Negara Pos dan Giro (PN Pos dan Giro) dan perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi). Pada tahun 1974 Perusahaan Negara Telekomunikasi disesuaikan menjadi perusahaan Umum Telekomunikasi (PERUMTEL) yang menyelenggarakan jasa Telekomunikasi Nasional dan Internasional.


Pada tahun 1980 Indonesia mendirikan suatu badan usaha untuk jasa Telekomunikasi Internasional yang bernama PT. Indonesian Satelite Corporation (INDOSAT) yang terpisah dari PERUMTEL. Pada tahun 1989 pemerintah Indonesia mengeluarkan UU No.3/ 1989 mengenai Telekomunikasi, yang isinya tentang peran swasta dalam penyelenggaraan Telekomunikasi. Pada tahun 1991 PERUMTEL berubah bentuk menjadi perusahaan perseroan (Persero) Telekomunikasi Indonesia berdasarkan PP No.25/ 1991 sampai sekarang. Perubahan di lingkungan PT. TELKOM Indonesia, Tbk terus berlanjut mulai dari perusahan jawatan sampai perusahaan public. Perubahan-perubahan besar terjadi pada tahun 1995 meliputi (1) Restrukturisasi Internal; (2) Kerjasama Internal; (3) Intial Publik Offering (IPO). Jenis usaha PT. TELKOM Indonesia, Tbk adalah penyelenggara jasa Telekomunikasi dalam negeri dan bidang usaha terkait seperti jasa sistem Telepon Bergerak (STBS) sirkuit pelanggan, teleks, penyewaan transpoder satelit, VSAT (Verry Small Apenture Terminal) dan jasa nilai tambah tertentu.


Pada tanggal 1 Juli 1995 organisasi PT. TELKOM Indonesia, Tbk berhasil menrekstruktur jenis jasa Telekomunikasi menjadi tujuh divisi regional dan satu divisi network yang keduanya mengelola bidang usaha utama. Divisi regional sebagai pengganti struktur WITEL yang memiliki daerah teritorial tertentu, namun hanya menyelenggarakan jasa telepon lokal dan mendapat bagian dari jasa SLJJ dan SLI. Divisi networkmenyelenggarakan jasa Telekomunikasi jarak jauh.


Unit-unit bisnis PT. TELKOM Indonesia, Tbk terdiri dari Divisi, Centre, Yayasan dan Anak Perusahaan. Adapun divisi yang tersedia di PT. TELKOM yaitu:



1. Divisi Long Distance


2. Carrier dan Interconnection Service


3. Divisi Multimedia


4. Divisi Fixed Wireless Network


5. Enterprise Service


6. Divisi Regional I – Sumatera


7. Divisi Regional II – Jakarta


8. Divisi Regional III – Jawa Barat


9. Divisi Regional IV – Jawa Tengah dan Yogyakarta


10. Divisi Regional V- Jawa Timur


11. Divisi Regional VI – Kalimantan


12. Divisi Regional VII – Kawasan Timur Indonesia


13. Maintenance Service Centre


14. Training Centre


15. Carrier Development Support Centre


16. Management Consulting Centre


17. Construction Centre


18. I/ S Centre


19. R and D Centre


20. Community Development Centre (CDC)






Knowledge Management Pada PT Telkom


Telkom menjadikan knowledge management sebagai salah satu strategi untuk menciptakan nilai, meningkatkan efektivitas dan produktivitas organisasi, serta keunggulan kompetitif organisasi. Diharapkan dari strategi tersebut dapat menjaga keberlangsungan organisasi dalam menghadapi persaingan yang sangat ketat. Kinerja dan prestasi tinggi yang ditampilkan Telkom adalah untuk mendapatkan positioningyang kuat di benak stakeholder.


Salah satu aplikasi knowledge management yang diterapkan oleh PT Telkom sendiri yaitu melalui Sharing Knowledge and Vision yang diselenggarakan atas inisiatif Human Resource Center (HRC) dan Direktorat NWS TELKOM bersama-sama dengan Learning Center dan R&D Center, dimana mengundang seluruh senior leader TELKOM yang memiliki konstelasi strategis dan pekerjaan dalam implementasi IMS.


IMS adalah sebuah sebuah platform dimana semua layanan dapat dikonvergensikan pada 3 layer yang digunakan, yaitu application/service layer, IMS layer, dan transport layer. Dalam hal ini, IMS juga tidak melupakan bahwa sistem harus mengakomodasi legacy system, sehingga ada fungsi interworking dengan sistem sebelumnya.


IMS ini dikembangkan karena services yang semakin berkembang dan bisa didistribusikan ke pelanggan dengan satu access device yang sama, tidak perlu berbeda-beda lagi. Satu device bisa menangani semuaservices. Konvergen. Semua jadi satu, mulai dari smart phone, PDA, radio, tv receiver, GPS dalam satu genggam tangan manusia. Untuk komunikasi dengan device A, mendengar berita kemacetan di radio dengan device A, browsing internet juga dengan device A. Tentunya data yang mengalir ke satu device ini menggunakan satu platform infrastruktur. Low cost infrastructure.

Sharing knowledge yang dilakukan oleh PT Telkom tersebut berupa Conference & Workshop. Pada tahap ini proses knowledge management yang diterapkan yaitu proses eksternalisasi yang dilakukan pembicara terhadap peserta, kemudian peserta melakukan internalisasi dari pengetahuan eksplisit yang dimiliki oleh pembicara ke pengetahuan tacit seseorang. Adanya kegiatan sharing knowledge ini diharapkan karyawan akan semakin kreatif dan inovatif sehingga kemampuannya dalam menghasilkan produk atau melakukan pelayanan akan meningkat.



Selain itu Telkom juga selalu melakukan pelatihan-pelatihan kepada karyawan untuk menambah kemampuan karyawan dalam bekerja.


Efisiensi penggunaan teknologi informasi dalam knowledge management atau biasa disebut Km tools adalah sarana untuk mempercepat proses penyimpanan, pengolhan, pencarian data, serta informasi. Bahkan, knowledge itu sendiri untuk menghasilkan knowledge yang baru. Teknologi informasi dogunakan untuk mengatasi berbagai hambatan sosial, jarak, ruang dan waktu untuk melakukan kolaborasi dan komunikasi yang sangat diperlukan dalam knowledge management. Teknologi informasi dapat mengatasi kendala, yakni waktu proses. Karena jika dilakukan secara manual akan memakan waktu lama.


Telkom sendiri dalam hal penggunaan knowledge management tools sudah baik, karena Telkom sudah memiliki situs resmi human capital & general affairs untuk memfasilitasi komunikasi antara pembuat kebijakan, pengelola SDM dan karyawan. Situs web ini memberi akses kepada karyawan untuk mencari kebijakan-kebijakan serta informasi lain yang terkait dengan SDM serta melakukan tanya jawab seputar masalah yang terkait dengan kebijakan SDM dan pelaksanaannya.










KESIMPULAN DAN SARAN






KESIMPULAN






Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan,


penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:


1. Objektivitas dan Independensi auditor internal pada PT Telekomunikasi


Indonesia, Tbk sudah baik. Hanya saja belum mencapai pada tahapan


excellent sehingga laporan audit pada PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk


juga baru mencapai pada tingkatan “good”. Hal ini dikarenakan tidak


ada penambahan jumlah personil yang memiliki sertifikasi nasional


(QIA) sejak tahun 2007.Sejak posisi 31 Desember 2008, Internal Audit


sampai posisi 31 Desember 2009 belum mempunyai personil dengan


kualifikasi internasional (Certified Internal Auditor/CIA) dan Certified


Information System Audit(CISA).


2. Secara simultan (bersama-sama) objektivitas dan Independensi Auditor


berpengaruh signifikan terhadap laporan audit pada PT. Telekomunikasi


Indonesia,Tbk. Objektivitas dan Independensi Auditor secarabersamasama memberikan kontribusi atau pengaruh sebesar 92% terhadap


Laporan Audit laporan audit pada PT. Telekomunikasi Indonesia,Tbk.


Artinya apabila Objektivitas cukup tinggi dan independensi yang


dimiliki oleh auditor semakin tinggi maka akan menghasilkan laporan 155


audit yang diharapkan. Sedangkan sisanya 8% merupakan pengaruh


faktor-faktor lain diluar variabel Objektivitas dan Independensi auditor


seperti seperti transparansi, akuntabilitas, resposibilitas, dan kewajaran.


(Gusnardi : 2006).


3. Secara parsial objektivitas dan Independensi Auditor berpengaruh


signifikan terhadap laporan audit pada PT. Telekomunikasi


Indonesia,Tbk.Objektivitas memberikan kontribusi atau pengaruh


pengaruh sebesar 65,5% terhadap laporan audit pada PT.


Telekomunikasi Indonesia, Tbk. sedangkan 34,4% sisanya dipengaruhi



oleh pengalaman auditor dan kompetensi. Kemudian Independensi


auditor berpengaruh signifikan terhadap laporan audit pada PT.


Telekomunikasi Indonesia, Tbk, Independensi auditor memberikan


kontribusi atau pengaruh sebesar 49,9% terhadap laporan audit pada PT.


Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Sedangkan 50,1% sisanya dipengaruhi


oleh pengetahuan yang merupakan komponen penting dalam suatu


keahlian membuat laporan audit. Komponen ini meliputi pengetahuan


terhadap fakta-fakta dan prosedur-prosedur auditing.






SARAN


Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan bahwa Objektivitas dan


Independensi berpengaruh positif terhadap laporan audit, maka peneliti memberikan


saran sebagai berikut :156


1. Untuk menjaga objektivitas dan independensi sebagai seorang auditor,


setiap individu Internal Audit harus bekerja secara profesional,


bersikap jujur terhadap diri sendiri dan yakin bahwa hasil kerjanya


handal, dapat dipercaya, sehingga individu Internal Audit dapat


mengambil keputusan profesional secara bebas dan objektif sehingga


laporan audit dapat sesuai dengan yang diharapkan oleh perusahaan.


2. Objektivitas, Independensi dan Laporan Audit PT. Telekomunikasi


Indonesia, Tbk sudah cukup baik, namun sebaiknya Unit internal audit


pada PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk melakukan penambahan


jumlah personil yang memiliki sertifikasi nasional (QIA). Sehingga


unit internal audit mempunyai personil dengan kualifikasi


internasional (Certified Internal Auditor/CIA) dan Certified


Information System Audit(CISA). Supaya Objektivitas dan


Independensi dapat mencapai pada tahapan Excelent, dan laporan audit


sesesuai dengan yang diharapkan oleh perusahaan.